Pemain Masa Depan Jerman Berubah Menjadi Seorang Jihad

December 4, 2013 Berita Bolaberita sepak bola

Pemain Masa Depan Jerman Berubah Menjadi Seorang Jihad

Pemain Masa Depan Jerman Berubah Menjadi Seorang Jihad

Saat Burak Karan, seorang pemain sepak bola keturunan Jerman-Turki, yang digadang-gadang akan menjadi bintang di masa depan itu terbunuh bulan lalu ketika ada sebuah serangan militer Suriah terhadap pemberontak anti-Bashar Al Assad di dekat perbatasan Turki, hal ini menguak sesuatu. Ternyata Burak Karan termasuk menjadi salah seorang pemain sepak bola yang kemudian menjadi fundamentalis sekaligus rebelious alias pemberontak terhadap suatu pemerintahan. Dia tentu saja bukan yang pertama. Masih banyak nama lainnya. Dia lebih terangkat karena dia adalah salah satu pemain berbakat yang bisa menaikkan derajat dan martabat bangsanya apapun yang dia pilih kelak entahkah dia memilih Turki seperti Emre Belozoglu atau memilih Jerman seperti Mesut  Oezil.

Kasus ini semakin menarik karena ternyata Karan sebenarnya tidak mau bergabung ke kelompok fundamentalis tersebut. Dia dipaksa ikut dan akhirnya harus menamatkan karir sepakbolanya yang menjanjikan di bawah paksaan radikal kelompok pemberontak Suriah. Hal sebaliknya sebenarnya terjadi pada bom bunuh diri yang melibatkan pemain sepak bola ataupun serangan-serangan yang dilakukan oleh pemain bola fundamentalis lainnya. Mereka lebih memilih secara suka rela untuk melakukannya karena mendapatkan doktrinisasi yang pada akhirnya mempengaruhi pola pikir mereka. Mereka ditakut-takuti bahwa mereka akan masuk ke neraka jika tidak mengikuti perintah mengorbankan nyawa demi orang lain yang salah kaprah.

Burak Karan mati karena sebuah bom yang dijatuhkan oleh Angkatan Udara Suriah di desa Azaz, dekat perbatasan Turki. Daerah tersebut memang terkenal sebagai salah satu basis markas pemberontak pemerintahan resmi Suriah. Militer Suriah sendiri sebenarnya tidak ingin hal ini terjadi tetapi keresahan atas tindakan pemberontakan haruslah dihilangkan, maka, atas dasar itulah maka pemerintah Suriah mengeluarkan perintah “drop the bomb on that city/ village!” Dan ternyata kemudian diketahui bahwa salah satu korban adalah Burak Karan. Apalagi kemudian di kamar messnya di klubnya bermain ditemukan sebuah surat wasiat yang isinya antara lain agar meminta ibunya tetap tabah dan tidak menangis jika dia sudah meninggal. Ibunya Burak Karan sendiri sangat kaget mengetahui bahwa putranya harus sampai melakukan hal sedemikian.

Sepak bola adalah sebuah magnet. Siapa saja yang mendekatinya adalah sah. Begitu pun para kelompok fundamentalis ini. Mereka secara cerdik masuk ke dalam stadion lalu secara perlahan tapi pasti merasuki pikiran para pemain muda yang masih bisa dicuci otaknya. FIFA seharusnya juga mempunyai kebijakan akan hal ini. Urusan yang menyangkut dengan penonton serta pemain sepak bola adalah wewenang FIFA sehingga seharusnya “boleh-boleh” saja mengintervensi para kelompok fundamentalis tersebut. Sebuah hal yang seharusnya masih bisa dicegah. Karena mencegah memang lebih baik daripada mengobati. Karena ibaratkan orang yang sakit harus disembuhkan dulu jika berobat tetapi dengan mencegah maka seseorang tersebut bisa terus kuat dan sehat.